Rabu, 02 Desember 2015

Kearifan Lingkungan Masyarakat Gunung Kidul Dalam Mengelola Sumberdaya Air


 Kearifan Lingkungan Masyarakat Gunung Kidul Dalam Mengelola Sumberdaya Air
 
Sumberdaya air yang ada di kawasan Gunung Kidul memiliki nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari baik untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga maupun untuk pertanian, banyak cara yang telah dilakukan oleh masyarakat setempat di daerah yang memiliki sumberdaya air dengan melakukan penjagaan dan pengelolaan secara konvensional, ini berjalan seiring dengan kebutuhan bersama. Pola kehidupan masyarakat yang berpusat pada daerah yang memiliki sumber air baik itu air danau maupan air dari sungai bawah permukaan yang ada di dalam gua menyebabkan adanya rasa tanggung jawab bersama dalam mengelolanya agar dapat dimanfaatkan bersama. Pada saat hujan, air permukaan akan masuk melalui lubang-lubang vertikal (sinkhole) yang biasanya berada di lembah-lembah kars (doline) dan mengalir ke bawah permukaan melalui sungai bawah permukaan dan mengalir melalui sistem perguaan (cave system) sebagian akan keluar melalui mata air ataupun melalui mulut gua yang lain dalam satu sistem yang sama, proses infiltrasi air juga akan membawa sedimentasi ke dalam gua melalui aliran dan akan dapat mempengaruhi air yang ada di bawah permukaan yang keluar di tempat lain untuk menjaga sedimentasi perlu dilakukan pengelolaan sinkhole dan gua-gua kars dengan baik, hal ini telah dilakukan oleh masyarakat di banyak wilayah kars yang memiliki sinkhole pada suatu dolena yang ada pada suatu wilayah.
 Dari dulu masyarakat sudah mengetahui bahwa sedimentasi yang terjadi pada saat infiltrasi air, sangat mempengaruhi kualitas air di tempat air itu keluar sebagai sumber mata air, karena pada saat hujan terjadi sesuai dengan hukum gravitasi bahwa air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terakumulasi ke suatu cekungan dengan membawa material-material sedimen yang ikut bersama dengan aliran air. Kearifan lingkungan yang sudah ada adalah bagaimana masyarakat mengelola sinkhole-sinkhole, dengan menyusun tumpukan batuan di sekitar bibir sinkhole itu, batuan ini akan berfungsi sebagai penyaring sedimen pada saat air masuk sehingga pada saat musim hujan sumber air yang berada di dalam sistem itu tidak keruh dan tetap dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, dari berbagai tempat yang memiliki sinkhole yang berada di kawasan Gunung Kidul yang pernah saya temui selalu dalam kondisi tertata rapi dan biasanya selalu ditanami tumbuh-tumbuhan di sekitarnya, masyarakat setempat mempercayai dengan menjaga sinkhole ini akan memberikan manfaat yang baik bagi sumber air yang ada di sekitar wilayahnya, selain itu setiap musim hujan banyak masyarakat yang menampung air hujan ke dalam penampungan air agar dapat tersimpan dan menabung air untuk memenuhi kebutuhan air pada waktu musim kemarau tiba.
 Kearifan lingkungan yang lain yang ada adalah pengelolaan danau-danau kars di kawasan Gunung Kidul, sebagai contoh yang pernah saya ketahui bagaimana cara masyarakat mengelola suatu danau dimana danau ini merupakan sumber air yang ada di wilayah Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, berdasarkan cerita dari masyarakat setempat  masyarakat mengelola kembali danau kars yang sudah mati dan tidak berfungsi lagi, masyarakat melihat bahwa danau ini memiliki potensi yang besar sebagai penampung air hujan dengan melihat sejarah desa dimana danau ini pernah menjadi pusat sumber air bagi masyarakat sekitarnya kemudian masyarakat secara bergotong-royong dengan membuat susunan batuan di setiap tepian danau yang berfungsi sebagai penyaring air yang masuk, kemudian memberi lapisan tanah lempung di setiap sisi danau yang berfungsi sebagai penahan air agar tidak masuk ke bawah permukaan melalui rekahan-rekahan yang ada dan menanam berbagai macam tumbuhan di sekitar danau seperti Jarak, Jati dan lain-lain berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air, setelah melakukan ini masyarakat harus menunggu sampai tiga periode musin hujan selama tiga tahun untuk menjadikan danau ini berfungsi kembali. Karena danau ini dibangun berdasarkan kearifan lingkungan yang ada dan dimanfaatkan bersama maka masyarakat memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga dan mengelola danau ini sehingga masyarakat lebih memandang budaya lokal yang ada untuk mengelolanya dengan membuat aturan-aturan adat tentang pelestarian dan pengelolaan danau ini.
 Aturan adat yang berlaku adalah budaya-budaya masyarakat yang ada dan dipadukan dengan sisi kepercayaan yang mengatur semua tatanan sosial terhadap lingkungannya, mulai dari adanya hukuman adat dari masyarakat bila terbukti merusak sumber-sumber air baik itu masyarakat lokal ataupun masyarakat dari luar mereka mempercayai jika dilakukan perusakan terhadap sumber air yang ada maka mereka akan mendapatkan malapetaka seperti sebelum sumber danau itu di fungsikan kembali yaitu adanya bencana kekeringan, gagal panen dan kelaparan. Sebagian masyarakat Gunung Kidul mempercayai adanya suatu pertanda buruk apabila terjadi perusakan terhadap sumber airnya, hal ini akan diberlakukan aturan-aturan adat untuk memberikan hukuman baik itu yang dilakukan oleh masyarakat lokal ataupun oleh masyarakat luar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar