Kearifan
Lingkungan Masyarakat Gunung Kidul Dalam Mengelola Sumberdaya Air
Sumberdaya
air yang ada di kawasan Gunung Kidul memiliki nilai yang sangat tinggi bagi
masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari baik untuk pemenuhan
kebutuhan rumah tangga maupun untuk pertanian, banyak cara yang telah dilakukan
oleh masyarakat setempat di daerah yang memiliki sumberdaya air dengan
melakukan penjagaan dan pengelolaan secara konvensional, ini berjalan seiring
dengan kebutuhan bersama. Pola kehidupan masyarakat yang berpusat pada daerah
yang memiliki sumber air baik itu air danau maupan air dari sungai bawah
permukaan yang ada di dalam gua menyebabkan adanya rasa tanggung jawab bersama
dalam mengelolanya agar dapat dimanfaatkan bersama. Pada saat hujan, air
permukaan akan masuk melalui lubang-lubang vertikal (sinkhole) yang biasanya
berada di lembah-lembah kars (doline) dan mengalir ke bawah permukaan melalui
sungai bawah permukaan dan mengalir melalui sistem perguaan (cave system)
sebagian akan keluar melalui mata air ataupun melalui mulut gua yang lain dalam
satu sistem yang sama, proses infiltrasi air juga akan membawa sedimentasi ke
dalam gua melalui aliran dan akan dapat mempengaruhi air yang ada di bawah
permukaan yang keluar di tempat lain untuk menjaga sedimentasi perlu dilakukan
pengelolaan sinkhole dan gua-gua kars dengan baik, hal ini telah dilakukan oleh
masyarakat di banyak wilayah kars yang memiliki sinkhole pada suatu dolena yang
ada pada suatu wilayah.
Dari
dulu masyarakat sudah mengetahui bahwa sedimentasi yang terjadi pada saat
infiltrasi air, sangat mempengaruhi kualitas air di tempat air itu keluar
sebagai sumber mata air, karena pada saat hujan terjadi sesuai dengan hukum
gravitasi bahwa air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terakumulasi
ke suatu cekungan dengan membawa material-material sedimen yang ikut bersama
dengan aliran air. Kearifan lingkungan yang sudah ada adalah bagaimana
masyarakat mengelola sinkhole-sinkhole, dengan menyusun tumpukan batuan di
sekitar bibir sinkhole itu, batuan ini akan berfungsi sebagai penyaring sedimen
pada saat air masuk sehingga pada saat musim hujan sumber air yang berada di
dalam sistem itu tidak keruh dan tetap dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan
sehari-hari, dari berbagai tempat yang memiliki sinkhole yang berada di kawasan
Gunung Kidul yang pernah saya temui selalu dalam kondisi tertata rapi dan
biasanya selalu ditanami tumbuh-tumbuhan di sekitarnya, masyarakat setempat
mempercayai dengan menjaga sinkhole ini akan memberikan manfaat yang baik bagi
sumber air yang ada di sekitar wilayahnya, selain itu setiap musim hujan banyak
masyarakat yang menampung air hujan ke dalam penampungan air agar dapat
tersimpan dan menabung air untuk memenuhi kebutuhan air pada waktu musim
kemarau tiba.
Kearifan
lingkungan yang lain yang ada adalah pengelolaan danau-danau kars di kawasan
Gunung Kidul, sebagai contoh yang pernah saya ketahui bagaimana cara masyarakat
mengelola suatu danau dimana danau ini merupakan sumber air yang ada di wilayah
Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, berdasarkan cerita dari masyarakat
setempat masyarakat mengelola kembali danau kars yang sudah mati dan
tidak berfungsi lagi, masyarakat melihat bahwa danau ini memiliki potensi yang
besar sebagai penampung air hujan dengan melihat sejarah desa dimana danau ini
pernah menjadi pusat sumber air bagi masyarakat sekitarnya kemudian masyarakat
secara bergotong-royong dengan membuat susunan batuan di setiap tepian danau
yang berfungsi sebagai penyaring air yang masuk, kemudian memberi lapisan tanah
lempung di setiap sisi danau yang berfungsi sebagai penahan air agar tidak
masuk ke bawah permukaan melalui rekahan-rekahan yang ada dan menanam berbagai
macam tumbuhan di sekitar danau seperti Jarak, Jati dan lain-lain berfungsi
sebagai penyerap dan penyimpan air, setelah melakukan ini masyarakat harus
menunggu sampai tiga periode musin hujan selama tiga tahun untuk menjadikan
danau ini berfungsi kembali. Karena danau ini dibangun berdasarkan kearifan
lingkungan yang ada dan dimanfaatkan bersama maka masyarakat memiliki rasa
tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga dan mengelola danau ini sehingga
masyarakat lebih memandang budaya lokal yang ada untuk mengelolanya dengan
membuat aturan-aturan adat tentang pelestarian dan pengelolaan danau ini.
Aturan
adat yang berlaku adalah budaya-budaya masyarakat yang ada dan dipadukan dengan
sisi kepercayaan yang mengatur semua tatanan sosial terhadap lingkungannya,
mulai dari adanya hukuman adat dari masyarakat bila terbukti merusak
sumber-sumber air baik itu masyarakat lokal ataupun masyarakat dari luar mereka
mempercayai jika dilakukan perusakan terhadap sumber air yang ada maka mereka
akan mendapatkan malapetaka seperti sebelum sumber danau itu di fungsikan
kembali yaitu adanya bencana kekeringan, gagal panen dan kelaparan. Sebagian
masyarakat Gunung Kidul mempercayai adanya suatu pertanda buruk apabila terjadi
perusakan terhadap sumber airnya, hal ini akan diberlakukan aturan-aturan adat
untuk memberikan hukuman baik itu yang dilakukan oleh masyarakat lokal ataupun
oleh masyarakat luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar